Home / BERITA LAW FIRM / Unjuk Rasa Warnai Saling Dorong di Kantor PT. Buana Estate, Sejumlah Massa Paksa Masuk ke Gedung

Unjuk Rasa Warnai Saling Dorong di Kantor PT. Buana Estate, Sejumlah Massa Paksa Masuk ke Gedung

Aksi unjuk rasa di depan Gedung Tedja Buana

Amanahanaknegeri.com, Jakarta : Sejumlah massa yang mengatasnamakan Gerakan Rakyat Anti Penipuan (Garap) kembali melakukan unjuk rasa di kantor PT. Buana Estate di gedung Tedja Buana, Menteng, Jakarta, Senin (18/01/2016).

Aksi parlemen jalanan kali ini sempat diwarnai aksi saling dorong antara para demonstran dengan aparat kepolisian yang mengamankan jalannya aksi.

Bahkan, beberapa orang demonstran sempat memaksa masuk dengan berusaha melompati pintu gerbang gedung Tedja Buana, sebelum kemudian dihadang oleh pagar betis puluhan satpam dan polisi.

Namun, pihak perusahaan PT. Buana Estate lagi-lagi tak menunjukkan itikad baiknya dan tidak bersedia menerima audiensi dari perwakilan demonstran.

Dalam aksi tersebut, para pengunjuk rasa ‎juga membawa spanduk yang cukup besar bertuliskan tuntutan penutupan Gedung Tedja Buana dan pembubaran PT. Buana Estate dan Sawangan Residence Ideal.

Mereka menilai, perusahaan rintisan Probosutedjo itu telah berlaku dzolim, karena tidak memberikan hak kepada karyawannya.

Dalam orasinya, Frans selaku ketua korlap mengatakan bahwa bahwa massa aksi yang terdiri dari mahasiswa dan masyarakat itu menuntut tanggung jawab dari PT. Buana Estate yang dinilai telah bertindak dzolim.

Menurut Frans, perusahaan yang dipimpin Rita Ria Kurnianta yang tak lain adalah Putri Probosutedjo itu diduga telah melakukan sebuah tindak pidana penipuan dan penggelapan secara membabi buta.

Perusahaan yang bergerak dalam bidang perumahan (property) beralamat di Jl. Raya Sawangan – Ciputat, Km 1 Sawangan Depok itu melakukan persekongkolan jahat dengan Ir. Purwono Sasmito Adi selaku Project Manager dan Arif Budiman Daulay selaku Manager Keuangan Sawangan Residence Ideal untuk melakukan pendzaliman kepada orang-orang miskin dan lemah.

“Kawan kami yang sudah bekerja keras dan banting tulang serta memeras keringat selama berbulan-bulan, dalam membangun rumah sebanyak 12 unit di Sawangan Residence Ideal, tapi haknya tak dipenuhi,” jelas Frans kepada wartawan.

Dijelaskan dia, berdasarkan rincian dan catatan korban, serta berdasarkan bukti-bukti yang sah secara hukum, pihak perusahaan terbukti bahwa pembayaran untuk pembangunan rumah 12 unit tersebut belum habis dan masih kurang Rp. 815.649.216,- dari total nilai yang tertulis dalam Surat Perjanjian Kerja (SPK) yaitu sebesar Rp. 1.703.068.000.

Bahkan, hal tersebut telah berkali-kali diklarifikasi dan juga dua kali disomasi oleh Kantor Hukum Khoirul Amin & Associates Law Firm.

Akan tetapi, semua usaha tersebut sia-sia karena tidak adanya itikad baik dari PT. Buana Estate dan Sawangan Residence Ideal untuk menyelesaikan permasalahan sisa pembayaran.

Oleh karena itu, lanjut Frans, berdasarkan kronologis dan fakta-fakta diatas, sudah sangat jelas bahwa PT. Buana Estate dan Sawangan Residence Ideal adalah sebuah perusahaan yang tidak layak untuk diberikan izin dan harus segera ditutup serta dibubarkan.

“Perusahaan ini telah menjadi sarang koruptor dan penipu yang telah banyak melakukan pendzaliman kepada orang-orang miskin dan lemah serta merampok uang Negara,” ketus Frans.

Atas dasar itu, Garap meminta agar gedung Teja Buana ditutup, dan PT. Buana Estate dan Sawangan Residence Ideal dibubarkan.

“Tangkap dan seret serta adili Probosutedjo, Rita Ria Kurnianta, Nur Rani, Purwono Sasmito Adi dan Arif Budiman Daulay,” tegas Frans dengan nada kesal.

Sementara saat akan dikonfirmasi oleh wartawan, pihak dari PT. Buana Estate dan Sawangan Residence Ideal, lagi-lagi beralasan tidak ada karena sedang keluar kantor‎.

Baca Juga

MUI Memaafkan, FSI Melaporkan

Forum Syuhada Indonesia (FSI) bersama beberapa ormas lainnya menambah daftar panjang laporan ke Bareskrim terkait …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *