Home / BERITA HUKUM / Samadikun Hartono ditangkap atau menyerahkan diri?

Samadikun Hartono ditangkap atau menyerahkan diri?

Pelarian Samadikun Hartono (68), salah satu pengeruk uang negara senilai Rp169 miliar, berakhir di Tiongkok, Jumat (15/4/2016). Namun kabar berakhirnya pelarian mantan Presiden Komisaris Bank Modern itu simpang siur. Apakah dia ditangkap ataukah menyerahkan diri.

Kepala Kepolisian RI Jenderal Badrodin Haiti menyebut buron 13 tahun itu menyerahkan diri. “Yang pasti bukan ditangkap. Mana mungkin intelijen menangkap di negara orang,” kata Badrodin seperti dikutip Liputan6.com.

Untuk memastikan, Badrodin meminta mengkonfirmasinya ke BIN. “Kalau ditangkap bagaimana bisa kita menangkap, itu kan di tempat lain,” ujar Badrodin seperti ditulis Okezone.

Namun menurut Jaksa Agung Prasetyo, terpidana 4 tahun itu bukan menyerahkan diri melainkan ditangkap. “Logikanya begini, kalau menyerahkan diri, ini kan sudah 13 tahun buron kenapa harus di negeri sana? Kenapa tidak di Indonesia saja?” kata Prasetyo. Sehingga, kata dia, tidak benar bila terpidana menyerahkan diri ke tim pemburu koruptor, tim yang dipimpin Kejaksaan Agung.

Menurut dia, Samadikun ditangkap berkat kerja keras Tim Pemburu Koruptor yang terdiri dari Kejaksaan Agung, Badan Intelijen Negara (BIN), Polri, Kementerian Luar Negeri, dan Kementerian Hukum dan HAM. “Samadikun itu tinggal di Singapura, dan punya bisnis di China dan Vietnam,” ungkap Prasetyo.

Saat ini, menurut Prasetyo, Samadikun tengah dalam proses pemulangan menuju Indonesia. Sebelum dikirim ke Lembaga Pemasyarakatan, Samadikun akan dibawa ke Kejaksaan Agung terlebih dulu. Namun ia belum bisa memastikan apakah Samadikun akan dijebloskan ke Nusakambangan, Cipinang, atau Salemba.

Samadikun divonis bersalah dalam kasus penyalahgunaan dana talangan Bank Indonesia atau yang dikenal dengan Bantuan Likuiditas Bank Indonesia (BLBI) senilai Rp2,5 triliun yang digelontorkan ke Bank Modern menyusul krisis finansial 1998. Kerugian negara yang terjadi dalam kasus ini sebesar Rp169 miliar.

Berdasarkan putusan Mahkamah Agung (MA) tertanggal 28 Mei 2003, mantan Presiden Komisaris Bank PT Bank Modern Tbk itu dihukum empat tahun penjara.

0_0_1200_853_01f92d74f7d47ed0924cdc4c06f4277c27475ef8

Menurut Prasetyo, selain memburu Samadikun Tim Pemburu juga sedang memburu pengeruk uang negara lain. Ada Djoko Sugiarto Tjandra (Wakil Dirut PT Era Giat Prima) yang terlibat perkara Cessie (hak tagih) Bank Bali yang divonis dua tahun. Pada 2012 lalu, ada berita heboh tentang dia. Ia dikabarkan menjadi warga negara

Papua New Guinea (PNG). Karena Indonesia belum memiliki perjanjian ekstradisi dengan negara itu, Indonesia belum bisa mengeksekusinya.

Ada juga Edy Tanzil, terpidana 20 tahun perkara pembobolan Bank Bapindo sebesar Rp1,3 triliun. “Kita tidak berhenti pada Samadikun. Masih ada Edy Tanzil dan lainnya,” kata Prasetyo seperti ditulis Poskotanews.com.

Pos Kota mencatat, terpidana lain yang masih buronan, adalah terpidana BLBI Bank Harapan Sentosa Eko Edi Putranto, Lesmana Basuki (perkara JORR Seksi Pondok Pinang – Kampung Rambutan. Sedangkan yang sudah tertangkap dan dipulangkan ke tanah air, adalah David Nusa Widjaja (Bank Umum Setvitia), Sherny Kojongian (Bank BHS) dan Kiky Ariawan (Bank Surya).

Sumber Berita : Beritagar.id

KHOIRUL AMIN & Associates Law Firm KHOIRUL AMIN & Associates Law Firm
TINDAKAN DISKRIMINATIF APARAT PENEGAK HUKUM

Tertangkapnya Sismadikun Hartono (Koruptor BLBI) pada minggu kemarin menyita perhatian seluruh masyarakat Indonesia. Seluruh masyarakat merasa apreciate sekali dengan kinerja BIN dan aparat penegak hukum, akan tetapi pada sisi yang lain terbersit pertanyaan dalam benak masyarakat. Bahwa Sismadikun Hartono ini adalah seorang koruptor yang telah banyak menyengsarakan masyarakat, akan tetapi penyambutannya aparat penegak hukum di Bandara Halim kenapa begitu diistimewakan seakan menyambut kedatangan Presiden atau tamu istimewa Negara.???

Semestinya aparat penegak hukum dalam memperlakukan tersangka haruslah berdasar asas equality before the law. Jadi siapupun tersangkanya dan apapun tindak pidananya harus diperlakukan sama dihadapan hukum, dari tersangka pencuri sandal sampai tersangka korupsi sekalipun harus mendapat perlakuan yang sama. Jangan mengesankan jika pencuri sandal diperlakukan tidak manusiawi, akan tetapi jika dia koruptor dan punya banyak duit diperlakukan istimewa sebagaimana menyambut tamu Negara.

 

Baca Juga

Laporkan Sukmawati, FUIB harap polisi benar-benar mengusut soal puisi Ibu Indonesia

Merdeka.com – Puisi ‘Ibu Indonesia’ yang dibacakan Sukmawati Soekarnoputri berujung polemik. Akibatnya, dia dilaporkan sejumlah …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *